Air merupakan salah satu zat gizi yang esensial. Kandungan air dalam tubuh terus berkurang dan dikeluarkan melalui urin, feses, keringat, serta proses pernapasan, oleh karena itu asupan air yang cukup sangat diperlukan untuk mengganti air yang dikeluarkan. Persentase air pada tubuh anak-anak secara umum lebih besar daripada orang dewasa. Saat melakukan aktivitas fisik yang cukup berat atau sedang berada di tempat dengan cuaca yang cukup panas, anak-anak bisa tidak menyadari rasa haus yang merupakan tanda-tanda dehidrasi. Terlebih, dalam memenuhi kebutuhannya termasuk makan dan minum, anak-anak sangat tergantung pada pengasuh, sehingga anak-anak lebih berisiko mengalami dehidrasi. Tingkatan dehidrasi ringan (kehilangan 1-2% air dalam tubuh) sudah dapat menyebabkan kelelahan, sakit kepala, dan kurangnya konsentrasi pada anak. Beberapa studi menunjukkan temuan serupa yaitu, asupan air yang cukup dapat meningkatkan fungsi kognitif, sehingga anak-anak memiliki konsentrasi yang lebih baik atau lebih siap untuk belajar.1-3

Anak-anak menghabiskan hampir sepanjang hari di sekolah, sayangnya berdasarkan studi Friedlander dkkbanyak anak datang ke sekolah dengan status hidrasi yang kurang baik, hal ini berarti sejak berangkat dari rumah, asupan air anak masih belum memenuhi kebutuhannya. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa 71% anak sekolah tidak cukup minum air sepanjang hari.5 Banyak tantangan yang dihadapi anak-anak untuk dapat mengonsumsi cukup air di sekolah diantaranya yaitu, pandangan anak-anak terhadap konsumsi air putih yang ketinggalan zaman atau tidak keren (dibandingkan dengan minuman kemasan lainnya), anak-anak terkadang sangat aktif dan fokus pada kesibukannya sendiri hingga lupa untuk meminum air atau mengabaikan rasa haus, selain itu orang dewasa (dalam hal ini orang tua dan guru) kurang memotivasi anak terutama memberikan waktu khusus untuk minum dan mempersilahkan anak untuk pergi ke toilet dalam kegiatan pembelajaran.6

Berapa banyak cairan yang dibutuhkan oleh tubuh anak?

Rekomendasi asupan cairan berdasarkan Angka Kecukupan Gizi yang dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia7 yaitu 1900 mL/hari untuk anak usia 7-9 tahun, 1800 mL/hari untuk anak usia 10-12 tahun, dan 2000 mL/hari untuk anak usia 13-15 tahun. Pemenuhan kebutuhan cairan tidak hanya berasal dari minuman, tetapi dapat pula berasal dari makanan. Saran asupan cairan bagi masyarakat Indonesia secara umum juga terdapat pada Pedoman Gizi Seimbangyaitu 2/3 berasal dari minuman dan 1/3 dari makanan. Minuman yang dianjurkan adalah air putih sebanyak 2000 mL/hari atau setara dengan 8 gelas air.

Jenis atau pilihan minuman yang dapat untuk dikonsumsi oleh anak-anak?

Air putih memang pilihan terbaik untuk menjaga hidrasi tubuh tanpa menambah asupan kalori dan tidak memberikan efek negatif bagi kesehatan gigi dan mulut anak. Konsumsi minuman selain air putih tidak dijelaskan lebih lanjut dalam Pedoman Gizi Seimbang, namun pedoman “Healthy Hydration for Children 2018” untuk anak usia 5-11 tahun dari British Nutrition Foundation9 membahas mengenai alternatif minuman lain yang juga memberikan manfaat bagi kesehatan anak serta batasan konsumsi beberapa jenis minuman. Susu berada pada posisi kedua di bawah air putih dalam pedoman ini, anak dianjurkan untuk mengonsumsi jenis susu skim secara rutin berdasarkan pertimbangan bahwa susu mengandung zat gizi yang penting bagi anak, terutama dalam masa pertumbuhan, yaitu protein dan kalsium. Meskipun tidak ada pembahasan khusus mengenai susu, salah satu penjelasan dari poin Pedoman Gizi Seimbang Anak dan Remaja Indonesia yaitu poin A, Biasakan makan 3x sehari bersama keluarga tertulis bahwa ”Susu dan hasil olahannya (yoghurt, keju, dll) merupakan minuman atau makanan dengan kandungan zat gizi yang cukup lengkap”.

Minuman lain yang disarankan untuk dikonsumsi berdasarkan pedoman “Healthy Hydration for Children 20189 adalah jus buah dan smoothies maksimal 1x dalam sehari. Kedua minuman ini mengandung gula sehingga konsumsinya perlu dibatasi. Konsumsi minuman bersoda (sugar sweetened beverage) serta teh atau kopi perlu dibatasi hanya pada acara tertentu dengan mempertimbangkan bahwa asupan kafein berbahaya bagi anak, kopi dekafein tanpa gula atau dengan susu skim dapat menjadi alternatif apabila anak terpaksa mengonsumsi kopi. Selain itu, sebisa mungkin cegah anak mengonsumsi minuman manis. Sejalan dengan penjelasan tersebut, Pedoman Gizi Seimbang di Indonesia, walaupun tidak terdapat poin yang membahas konsumsi minuman manis, telah mempertimbangkan bahwa sangat dianjurkan agar anak-anak tidak membiasakan minum minuman manis atau bersoda, karena jenis minuman tersebut kandungan gulanya tinggi dan dapat meningkatkan konsumsi energi yang berakibat pada status gizi lebih dan resiko penyakit degeneratif. Terakhir, minuman berenergi tidak cocok untuk anak karena mengandung tinggi gula, kafein, dan kandungan zat aditif lain.

Tips praktis menjaga status hidrasi anak

Cara belajar terbaik bagi anak bukan mendengar perintah dari orang tua atau guru, melainkan dengan meniru perilaku orang dewasa di sekitar mereka. Oleh karena itu, orang tua maupun guru memiliki peran penting dan menjadi panutan anak dalam menjaga status hidrasi yang baik. Cobalah untuk lebih sering minum air putih atau mengonsumsi sayur dan buah di depan anak-anak. Selain itu, beberapa tips dari National Hydration Council UK10 ini dapat membantu memperbaiki asupan cairan anak;

  • Semangati anak untuk mengonsumsi air di pagi hari, pastikan anak minum cukup cairan sebelum berangkat sekolah (dapat diberikan saat sarapan)
  • Berikan makanan yang mengandung banyak cairan, setiap harinya pastikan anak juga mendapatkan kontribusi asupan cairan dari makanan seperti buah-buahan, sayuran, dan sup
  • Biasakan anak untuk meminum air putih setiap waktu makan, air putih dapat membantu mencerna sayuran yang dikonsumsi serta mengurangi rasa pahit dari sayur itu sendiri
  • Orang tua/guru/pengasuh memastikan anak mengonsumsi cukup air sepanjang hari, tawarkan minum sebelum dan sesudah anak beraktivitas, pastikan minuman selalu tersedia dan mudah diakses oleh anak di setiap kondisi (bekali anak dengan botol air mineral yang cantik/menarik dan disukai anak)
  • Cek status hidrasi anak berdasarkan palet warna urin, penilaian status hidrasi yang praktis dan memberikan gambaran akurat mengenai status hidrasi anak.

Referensi

  1. D’Anci KE, Constant F, Rosenberg IH. Hydration and cognitive function in children. Nutr Rev. 2006; 64(10 pt 1): 457–464.
  2. Benton D, Burgess N. The effect of the consumption of water on the memory and attention of children. Appetite. 2009;53(1): 143–146.
  3. Edmonds CJ, Burford D. Should children drink more water?: the effects of drinking water on cognition in children. Appetite. 2009;52(3): 776–579.
  4. Friedlander G. Hydration Status of Children in the US and Europe. Optimal Hydration: New Insights: Presented during the 2012 Academy of Nutrition and Dietetics Food & Nutrition Conference & Expo Philadelphia, USA, 7th Oct 2012
  5. Kaushik A, Mullee MA, Bryant TN, Hill CM. A study of the association between children’s access to drinking water in primary schools and their fluid intake: can water be ‘cool’ in school? Child: Care, Health & Development. 2007;33(4): 409–15.
  6. Gibson-Moore H. Improving hydration in children: A sensible guide. British Nutrition Foundation Nutrition Bulletin. 2013;38(2): 236–242
  7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan bagi Bangsa Indonesia. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi X, ID, 2013
  8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Gizi Seimbang. ID, 2014
  9. British Nutrition Foundation: Healthy Hydration for Children aged 5-11 years. UK, July 2018
  10. Derbyshire E: Hydration for Children. Published by National Hydration Council, UK, May 2017

Profil Penulis

Nur Lailatuz Zahra merupakan seorang mahasiswa lulusan Ilmu Gizi. Pada tahun 2018, penulis melanjutkan studinya sebagai mahasiswa S2 Gizi Komunitas SEAMEO-REFCON Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia