Air selama ini tidak sering dibahas dalam ilmu gizi, walau komposisi terbesar tubuh manusia adalah air. Namun sejak World Health Organization (WHO), European Food Safety Authority (EFSA), American Medical Association, US Centre for Disease Control, dan National Dietary Guideline mengkampanyekan pentingnya mengkonsumsi air minum dibandingkan dengan minuman berpemanis untuk menekan angka obesitas dan resiko penyakit kronis, air mulai sering diperbincangkan. Asupan air penting untuk unjuk kerja, kognitif dan status kesehatan secara umum. Pada anak-anak, status hidrasi terkait dengan kemampuan ekskresi ginjal yang terbatas serta resiko dehidrasi. Dehidrasi pada anak dapat menurunkan fungsi kognitif (konsentrasi, kewaspadaan dan memori jangka pendek). (Padrão, 2016)

Untuk anak usia 2-3 tahun, EFSA merekomendasikan total asupan cairan yang bersumber dari air minum, minuman lain dan makanan sebanyak 1300 mL/hari dan 1600 mL/hari bagi anak usia 4-8 tahun. Jumlah ini diperoleh dari observasi yang dikoreksi terhadap jumlah energi dan variasi antar individu. Jumlah asupan cairan dari makanan hanya sebesar 20% dari total konsumsi atau sekitar 1280 mL/hari untuk kelompok usia 4-8 tahun, sehingga penelitian banyak difokuskan pada konsumsi air selain yang berasal dari makanan. Minuman dengan pemanis termasuk yang sering dikonsumsi anak-anak dan remaja menurut data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) pada rentang tahun 2003-2006 di Amerika Serikat. Penelitian di 6 negara di  Eropa (Belgia, Bulgaria, Jerman, Yunani, Polandia dan Spanyol) menyajikan hasil penelitian yang menarik, diantaranya anak laki-laki cenderung mengkonsumsi cairan lebih banyak dibandingkan anak perempuan yang sebaya, anak yang lahir dari ibu dengan tingkat pendidikan yang rendah cenderung mengkonsumsi minuman berpemanis dua kali lipat, termasuk jus, dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan ibu berpendidikan tinggi. Dari kebutuhan 1280 mL/hari yang disarankan, ternyata sulit dipenuhi. Di Spanyol hanya 50,4% anak yang memenuhi asupan, sementara di Belgia jumlahnya lebih rendah lagi, hanya 8,1 %. Proporsi terbesar larutan berasal dari air minum, diikuti susu (tanpa atau dengan pemanis) dan jus. Sekitar 5% konsumsi cairan berasal dari minuman ringan. Konsumsi cairan lebih banyak di bagian selatan Eropa (Yunani, Spanyol) dibandingkan yang berada di sebelah barat Eropa (Belgia, Jerman). Hal ini dapat dimengerti karena pengaruh cuaca sehingga mempengaruhi jumlah konsumsi cairan. (Pinket dkk, 2015) Untuk menilai jumlah asupan larutan dapat dilakukan dengan menggunakan 24-hr recall yang divalidasi dengan metode lain, misal menggunakan 7-day fluid record atau sub-sample. (Bardosono dkk, 2015)

Terkait jus, konsumi rutin pada anak-anak ternyata meningkatkan resiko kegemukan. Banyak orang tua berpendapat jus lebih baik daripada air minum karena mengandung ekstrak buah, namun lupa dengan jumlah gula yang tinggi dan serat yang lebih rendah, dapat berakibat penumpukan kalori. Studi longitudinal di Amerika Serikat mengindikasikan bahwa anak-anak yang secara teratur mengkonsumsi jus pada usia 2 tahun memiliki peluang peningkatan (Body Mass Index) BMI Z-score dan weight z-score dibandingkan dengan kelompok yang tidak secara rutin mengkonsumsi jus. Anak yang mengkonsumi jus apel vs buah apel (setara dengan 120 kal) memiliki tingkat kenyang yang berbeda, anak yang mengkonsumsi jus apel akan mengkonsumsi makanan lain untuk memenuhi rasa kenyang. (Shefferly dkk, 2016)

Nilai standar untuk menilai jumlah asupan cukup, adequate intake (AI), diperoleh melalui observasi, sementara untuk menentukan kadar hidrasi dapat digunakan indikator warna urin di tingkat komunitas. Indikator lain yang lebih valid adalah urine osmolality (UOsmo). UOsmo ≥ 800 mmol/kg menandakan terjadi hypohydration yakni kondisi asupan larutan tidak memadai untuk ekskresi optimal bersama dengan status hidrasi sel dan peningkatan konsentrasi hormon. Warna urin dan UOsmo memiliki acuan pengukuran yang berbeda. Indikator warna urin menggunakan senyawa urochrome yang merupakan produk samping dari pecahan hemoglobin, sementara UOsmo diukur berdasarkan ion Na+, K+, Cl dan molekul urea. (Kavouras dkk, 2016) Padrão menghitung status hidrasi, pada penelitian di Portugal, dengan menggunakan persamaan Free Water Reserve (FWR) (mL/24 jam) = volume urin dalam 24 jam – zat terlarut dalam urin 24 jam (mOsm/hari) / [830 – 3,4] x [umur – 20] digunakan untuk mengelompokkan subyek terhidrasi dengan baik atau beresiko mengalami dehidrasi. Hasil penelitian Padrão konsisten dengan penelitian di 6 negara di Eropa bahwa sebagaian besar anak-anak tidak memenuhi jumlah asupan cairan yang ditetapkan EFSA. Anak-anak yang memenuhi standar EFSA, sumber konsumsi berasal dari air minum dan jus. Hal yang penting dan menjadi garis merah serta tanggung jawab banyak pihak adalah kampanye untuk meningkatkan jumlah konsumsi air minum harus terus dilakukan kepada semua pihak untuk meningkatkan asupan dan meningkatkan kualitas kesehatan keseluruhan.

 

Daftar Pustaka

  1. Padrão, P., et al. (2016). ‘Urinary hidration biomarkers and dietary intake in children’, Nutr Hosp 33 (suppl.3), p. 35-40
  2. Pinket, A.S., et al. (2015). ‘Water intake and beverage consumption of pre-schoolers from six European countries and associations with socio-economic status : the ToyBox-study. Public Health Nutrition 19(13), p. 2315-2325.
  3. Bardosono, S., et al. (2015). ‘Total fluid intake assessed with a-7 day fluid record versus a 24-h dietary recall : a crossover study in Indonesian adolescents and adults’. Eur J Nutr 54 Suppl (2) , p. S17-S25
  4. Shefferly, A., Scharf, R.J., DeBoer, M.D., (2016). ‘Longitudinal evaluation of 100% fruit juice consumption on BMI status in 2-5 year old children. Pediatr Obes 11(37), p. 221-227.
  5. Kavouras, S.A., Johnson, E.C., Bougatsas, D., (2016). ‘Validation of a urine color scale for assessment of urine osmolality in healthy children’. Eur J Nutr 55, p. 907-915

 

Profil singkat penulis :

Lestari Octavia, mahasiswa program doktoral ilmu gizi FK UI angkatan 2016, menulis tentang hidrasi pada anak-anak. Minat penelitian yang ditekuni terkait ibu hamil dan anak-anak karena merupakan kelompok yang beresiko mengalami masalah jika terjadi defisiensi zat gizi. Mengikuti kelas hidrasi yang diselenggarakan IHWG pada akhir tahun 2017 lalu memotivasi untuk menulis artikel yang berhubungan dengan hidrasi. Kuliah yang disampaikan invited professor memberikan informasi terkini terkait status hidrasi pada variasi subyek di berbagai negara.