Pengetahuan masyarakat saat ini tentang overhidrasi masih sangat minim dan perlu perhatian berbagai pihak, mengingat kondisi overhidrasi menimbulkan dampak negatif yang serius bagi kesehatan bahkan beberapa kasus dapat berakhir dengan kematian. Gangguan kesadaran disebabkan oleh pembengkakan otak akibat overhidrasi, karena air dalam jumlah yang berlebihan masuk sampai ke dalam sel-sel otak dan bila tidak tertangani dengan cepat dan tepat mengakibatkan kematian.

Overhidrasi terjadi saat seseorang minum berlebihan dalam waktu singkat sehingga mengalami kelebihan cairan yang berakibat konsentrasi natrium dalam plasma darah menjadi sangat rendah. Keadaan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal namun penyebab utama adalah minum berlebihan dalam jangka waktu beberapa jam misalnya dalam waktu 10-15 menit sebanyak 1 liter air atau minuman lainnya. Juga dapat diakibatkan oleh akibat adanya gangguan pengeluaran cairan tubuh.

Gejala overhidrasi antara lain ketika seseorang merasa mual, perut terasa penuh/begah lalu merasa sakit kepala, pusing, kaki dan tangan mengalami pembengkakan, terjadi gangguan kesadaranm tidak sadar lingkungan sekitarnya, dan akhirnya tidak sadarkan diri, koma dan bila tidak tertangani dengan cepat dan tepat akan meninggal dunia. Pada pemeriksaan darah ditemukan kadar natrium darah (Na+) lebih rendah dari normal (<135 mmol per liter). 1-4 Berbagai istilah diberikan untuk menyatakan kondisi overhidrasi, antara lain ; Exercise Associated Hyponatremia (EAH), Water Intoxication, Water Poison atau Hyponatremia.

Perwakilan dari Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Dr.dr. Budi Wiweko, SpOG (K), dalam sambutannya pada Seminar Media hari ini mengatakan, “Pengenalan overhidrasi sangat penting untuk diketahui terutama bagi yang menyukai olahraga berat seperti para atlet atau yang berolahraga dalam jangka waktu lebih lama. Akhir-akhir ini perlombaan lari jarak jauh termasuk maraton marak dilakukan di seluruh tanah air, biasanya para peserta perlombaan minum sebanyak-banyaknya untuk menghindari terjadinya dehidrasi. Namun minum berlebihan justru akan menimbulkan suatu keadaan yang juga tidak kalah bahayanya, karena akan terjadi suatu keadaan yang disebut overhidrasi. Oleh karena itu saya berharap melalui Indonesian Hydration Working Group (IHWG), masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan serta mengubah perilaku dalam bidang hidrasi sehat. Sejalan dengan visi misi FKUI, kami mendukung kegiatan IHWG melalui penyediaan tenaga ahli di berbagai bidang dan fasilitas yang dibutuhkan. Hasil-hasil penelitian IHWG, sebagai pusat hidrasi pertama dan satu-satunya di Indonesia diharapkan menjadi sumber informasi dan senantiasa disebarluaskan kepada masyarakat luas.”.

Indonesia Hydration Working Group (IHWG) merupakan suatu kelompok kerja ilmiah yang fokus terhadap permasalahan hidrasi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat di Indonesia. IHWG memiliki visi untuk meningkatkan ilmu pengetahuan mengenai hidrasi (advancing in Hydration Sciences) dan membagi pengetahuan terkait hidrasi dan kesehatan (sharing in Hybration knowledge) pada setiap kalangan masyarakat, baik profesi, akademisi, maupun masyarakat awam.

Dr.dr. Murdani Abdullah, SpPD-KGEH perwakilan dari RSCM yang menjabat sebagai Koordinator Pemantauan dan Evaluasi Penelitian RSCM dalam sambutannya mengatakan, “Dalam konteks perawatan pasien di RS kewaspadaan akan overhidrasi sangat krusial. Penggunaan cairan infus telah membantu mengatasi sejumlah masalah dehidrasi namun resiko overhidrasi dapat terjadi terutama pada kasus dengan gangguan fungsi ginjal atau pada pasien usia lanjut, demikian juga dengan pasien-pasien dengan beberapa comorbid. Keadaan overhidrasi ini kadang kala bisa fatal kalau tidak dikenali dari awal. Kami berharap IHWG dapat mengembangkan metode untuk deteksi dini pasien yang beresiko mengalami overhidrasi.”

Ketua IHWG, Dr.dr. Budi Wiweko, SpOG (K) dalam presentasinya mengemukakan, “Cairan merupakan suatu kebutuhan bagi setiap orang sejak lahir hingga lansia maupun pada kondisi-kondisi khusus. Sehingga IHWG terdiri dari beberapa kelompok kerja yaitu pokja kesehatan wanita, pokja kesehatan anak, pokja ginjal, pokja sport and exercise, pokja nutrisi, pokja geratri dan pokja syaraf. Kehadiran IHWG diharapkan dapat menjadi sumber informasi pengetahuan mengenai hidrasi dan kesehatan, meningkatkan kesadaran akan pentingnya hidrasi dalam kehidupan sehari-hari dan meningkatkan pengetahuan tentang kebutuhan cairan. Rencana program IHWG adalah untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia melalui hidrasi from womb to tomb (sejak janin hingga lansia) yang tercermin dari keberagaman sasaran kegiatan IHWG pada setiap program-programnya.”

Dalam presentasinya, beliau menjelaskan. “Dalam 4 bulan pertama tahun 2015 lalu, IHWG telah melakukan berbagai kegiatan baik dalam konteks pengabdian masyarakat, persiapan penelitian hingga kolaborasi dengan pemerintahan. Pada bulan Mei 2015, IHWG akan berpartisipasi dalam Simposium Paralel acara PIT Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) yang ke 10, disamping itu IHWG akan meneruskan penelitian kolaborasi mengenai Fluid Intake Study pada Anak di indonesia. Untuk bulan selanjutnya, IHWG akan berfokus pada peningkatan ilmu pengetahuan melalui penelitian-penelitian terkait hidrasi seperti penelitian Analisis Status Hidrasi Jemaah Haji dan Umrah Indonesia yang sedang dirancang dan puncaknya pada bulan Oktober bersamaan dengan ulang tahun IHWG akan diselenggarakan The 1st H4H Indonesia yang berisi kumpulan kegiatan berupa simposium, seminar, master class training, expert meeting.”

Dr.dr. Ermita I. Ilyas, MS, AIFO anggota team IHWG dan pakar fisiologi olahraga Departemen Fisiologi FKUI mengatakan, “Untuk memastikan apakah seseorang mengalami overhidrasi sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar natrium plasma darah. Hal ini berbeda dengan orang yang diduga mengalami dehidrasi, dimana pemeriksaan dilakukan melalui warna urin. Pada penderita dehidrasi bila masih dapat buang air kecil, akan terlihat urin yang pekat dan berwarna kuning tua.”

“Perempuan lebih rentan mengalami overhidrasi dibandingkan dengan laki-laki sebab perempuan mempunyai ukuran tubuh lebih kecil, sehingga pengeluaran panas dan cairan tubuh melalui penguapan dan melalui keringat lebih sedikit, akibatnya lebih banyak cairan tertahan di dalam tubuh. Selain itu adanya faktor perubahan hormonal seperti saat mens, tubuh perempuan mempunyai kecenderungan menahan air (retensi air).”

“Untuk mengatasi overhidrasi ringan, sebaiknya batasi asupan minum dan dapat mengonsumsi makanan ringan yang asin. Sedangkan untuk mengatasi overhidrasi sedang dan berat agar lebih aman, segera hentikan asupan cairan, dan segera ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Pencegahan overhidrasi dapat dilakukan dengan mengatur asupan cairan secukupnya, sesuai acuan yang ada bergantung pada cuaca, suhu dan kelembaban, ukuran tubu. Upayakan minum secara bertahap tidak minum berlebihan atau sekaligus dalam waktu singkat.’, tutup dr. Ermita.